Renungan Pastoral

Renungan Quotes Santa Angela

Januari-Februari 2026

Nasihat Santa Angela:

Pada setiap kesempatan, bertindaklah berdasarkan nasihat yang baik dan pertimbangan yang matang. Turutilah  apa yang diilhamkan dan dianjurkan oleh Cinta Kasih dan Roh Kudus

(Nasihat ketiga artikel 15 Warisan 9 artikel 7)

 

Bacaan Injil:

Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat (Luk 6:6-11)

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya.Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat,supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia.Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Maka bangunlah orang itu dan berdiri.

Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan yawa orang atau membinasakannya?”Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

 

 Renungan

 Suster Bapak Ibu Guru, Staf TU, Bapak Ibu Karyawan/Wati serta para peserta didik yang dikasihi Tuhan.

Pada bulan Januari-Februari ini kita akan menghayati dan menghidupi nasihat St. Angela : Pada setiap kesempatan, bertindaklah berdasarkan nasihat yang baik dan pertimbangan yang matang. Turutilah  apa yang diilhamkan dan dianjurkan oleh Cinta Kasih dan Roh Kudus

Mari kita bersama-sama merenungkan nasihat St. Angela ini agar berbuah dalam karya, pelayanan, tugas dan studi kita.

Bertindak dengan Bijaksana dalam Terang Cinta Kasih dan Roh Kudus

(Renungan atas Nasehat Santa Angela dan Injil Lukas 6:6–11)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berada pada situasi yang menuntut keputusan cepat. Namun, tidak semua keputusan boleh diambil secara tergesa-gesa. Artikel ini mengingatkan kita: “Pada setiap kesempatan, bertindaklah berdasarkan nasihat yang baik dan pertimbangan yang matang. Turutilah apa yang diilhamkan dan dianjurkan oleh Cinta Kasih dan Roh Kudus.” Pesan ini menjadi semakin nyata ketika kita merenungkan Injil Lukas 6:6–11.

Dalam Injil tersebut, Yesus berada di rumah ibadat pada hari Sabat. Ia bertemu dengan seorang yang mati sebelah tangannya. Yesus sadar bahwa para ahli Taurat dan orang Farisi sedang mengawasi-Nya, mencari kesalahan untuk menjatuhkan-Nya. Menyembuhkan pada hari Sabat dianggap melanggar hukum. Namun Yesus tidak membiarkan aturan menghalangi kasih. Ia berhenti sejenak, mengajak semua orang berpikir dengan bertanya, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat: berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?”

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa Yesus bertindak bukan berdasarkan emosi, bukan pula sekadar ingin menentang aturan, tetapi berdasarkan pertimbangan yang matang dan ketaatan pada kehendak Allah. Ia tahu bahwa hukum Allah sejatinya dibuat demi kebaikan manusia. Maka, dipimpin oleh Roh Kudus dan digerakkan oleh cinta kasih, Yesus menyembuhkan orang itu. Tindakan Yesus menghadirkan kehidupan, meskipun menimbulkan kemarahan dari orang-orang yang hatinya tertutup.

Contoh dalam Kehidupan Sekolah

Situasi serupa sering kita jumpai dalam kehidupan di sekolah.

Misalnya, seorang guru mendapati ada siswa yang tertidur di kelas. Aturan sekolah mungkin menyatakan bahwa siswa yang tidur harus ditegur atau diberi sanksi. Namun, guru yang bertindak dengan pertimbangan matang akan bertanya dalam hati: Mengapa siswa ini tertidur? Setelah dicari tahu, ternyata siswa tersebut membantu orang tuanya bekerja hingga larut malam. Guru yang dipimpin oleh cinta kasih tidak langsung menghukum, tetapi menegur dengan bijaksana, memberi nasihat, dan mungkin memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Di sinilah hukum sekolah dijalankan dalam terang kasih, bukan sekadar hukuman.

Contoh lain, di lingkungan pertemanan, seorang siswa melihat temannya menyontek saat ulangan. Ia berada pada dilema: melaporkan atau diam. Jika bertindak tanpa pertimbangan, ia bisa langsung melapor atau justru ikut-ikutan. Namun, jika ia mendengarkan suara hati dan Roh Kudus, ia dapat memilih jalan kasih: menegur temannya secara pribadi, mengingatkan bahwa kejujuran adalah nilai yang penting, dan mengajak temannya belajar bersama agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Dalam kegiatan kelompok atau organisasi sekolah, sering terjadi perbedaan pendapat. Ada siswa yang ingin pendapatnya selalu diikuti, bahkan dengan cara memaksakan kehendak. Sikap ini lahir dari ego, bukan dari kasih. Sebaliknya, siswa yang meneladan Yesus akan belajar mendengarkan, menghargai pendapat orang lain, dan mencari keputusan bersama demi kebaikan kelompok. Ini adalah bentuk nyata bertindak berdasarkan nasihat yang baik dan pertimbangan yang matang.

Suster, Bapak, Ibu Guru, Staf TU, Bapak Ibu Karyawan/Wati serta para peserta didik yang terkasih,

Dari nasihat Santa Angela ini mengajak kita semua baik sebagai pendidik atau peserta didik untuk memperhatikan kembali tindakan kita sebelumnya secara lebih matang. Suster Bapak Ibu Guru, Staf TU, Bapak Ibu Karyawan/Wati serta para peserta didik yang dikasihi Tuhan,

Sekarang marilah kita membuat niat konkrit untuk kita lakukan selama bulan Januari-Februari ini sebagai bentuk penghayatan terhadap nasihat St. Angela. Buatlah dua niat singkat dengan bantuan pertanyaan refleksi berikut ini:

Refleksi bagi Kita

Melalui renungan ini, kita diajak untuk bercermin: dalam setiap keputusan yang kita ambil di sekolah;

  1. Sebagai guru, siswa, maupun tenaga kependidikan—apakah kita sudah bertanya seperti Yesus? Apakah tindakan ini membawa kebaikan? Apakah keputusan ini membangun dan memanusiakan?
  2. Apa yang ingin diubah setelah mendengarkan renungan dan nasihat dari Santa Angela?
  3. Tuliskan niat-niatmu untuk semakin berhati-hati dalam tindakan atau tutur kata dalam kehidupan sekolah atau bersosial media

Yesus mengajarkan bahwa keberanian untuk berbuat baik sering kali menuntut risiko: disalahpahami, dikritik, bahkan ditolak. Namun kasih sejati tidak pernah salah arah. Selama kita bertindak dalam terang Cinta Kasih Allah dan bimbingan Roh Kudus, keputusan kita akan menjadi berkat bagi sesama.

Semoga melalui renungan ini, kita semakin peka mendengarkan suara Roh Kudus, berani memilih yang baik, dan setia menghadirkan kasih Allah dalam setiap aspek kehidupan sekolah. Dengan demikian, sekolah sungguh menjadi tempat bertumbuhnya iman, karakter, dan kemanusiaan yang utuh. Amin.

DOA SANTA ANGELA

 Ya Tuhan,

Terangilah kegelapan hatiku, dan berikan kepadaku

Rahmat untuk memilih kematian

daripada melukai diri-Mu yang Agung.

Ya Tuhan,

Kuatkanlah inderaku, kuatkanlah perasaanku

agar tak mengkhianati-Mu

atau memalingkan diriku dari Cahaya wajah-Mu.

Kupersembahkan kepada-Mu semua pikiranku,

perkataanku dan pekerjaanku, semua yang kumiliki.

Semua itu kuletakkan di kaki-Mu, Tuhan yang Agung,

kami mohon, supaya Engkau menerimanya dengan kasih sayang

meskipun begitu tak pantas.

Amin.

 

 

Renungan Quotes Santa Angela

Oktober – November 2025

Prakata Nas. St. Angela artikel 16

“Berdoalah kepada-Nya dengan rendah hati percayakan dirimu kepada kekuasaanNya Yang Maha Besar, jangan ragu-ragu. Dia yang telah memilih anda untuk tugas yang penting ini, Dia jugalah yang memberi kekuatan untuk menyelesaikannya, asal dari pihak anda tidak mengecewakan dia”

Suster, Bapak Ibu orang tua, Bapak Ibu guru, TU, karyawan, serta teman-teman peserta didik Kampus Ursulin Santa Theresia yang terkasih.

Dalam bulan Oktober, kita memasuki bulan Rosario, dimana seluruh umat Kristiani menaruh perlindungan kepada Bunda Maria, Ratu Rosari dan Bunda Gereja. Untuk bulan Oktober dan November, pesan St Angela bulan ini sangat relevan dengan kehidupn kita. Bulan Rosario diperingati Gereja atas perlindungan Allah kepada Gereja pada saat itu. Di situasi saat ini, kita juga tidak luput dari rasa takut akan tugas yang dipercayakan kepada kita. Tidak menutup kemungkinan, rasa takut yang kita alami akan membawa kita kepada depresi, rasa kehilangan, bahkan pesimis sehingga kita takut untuk menunaikan tugas yang dipercayakan kepada kita. Maka pada kessempatan di bulan Oktober-November ini, pesan St Angela mengingatkan kita untuk kembali kepada Pencipta, yang memberikan tugas perutusan kepada kita. Biarlah Tuhan sendiri yang hadir dan membela kita disaat kita menghadapi rasa takut.

Pertanyaan untuk kita renungkan:

  1. Apakah aku sudah sungguh mengandalkan Tuhan di setiap karya perutusan yang kujalani?
  2. Bagaimana aku akan menjaga relasiku dengan Tuhan melalui doaku?

Tuhan memberkati kita sekalian.

 

DOA SANTA ANGELA

Ya Tuhan,

Terangilah kegelapan hatiku, dan berikan kepadaku

Rahmat untuk memilih kematian

daripada melukai diri-Mu yang Agung.

Ya Tuhan,

Kuatkanlah inderaku, kuatkanlah perasaanku

agar tak mengkhianati-Mu

atau memalingkan diriku dari Cahaya wajah-Mu.

Kupersembahkan kepada-Mu semua pikiranku,

perkataanku dan pekerjaanku, semua yang kumiliki.

Semua itu kuletakkan di kaki-Mu, Tuhan yang Agung,

kami mohon, supaya Engkau menerimanya dengan kasih sayang

meskipun begitu tak pantas.

Amin

 

Agustus – September 2025

Prakata Nas. St. Angela artikel 18

“Anda akan menyaksikan hal-hal yang mengagumkan bila anda mengarahkan segalanya demi Kemuliaan Tuhan”

Suster, Bapa Ibu Guru serta teman-teman yang dikasihi oleh Tuhan. Pada bulan Agustus dan September ini kita diajak untuk menimba inspirasi dari nilai Serviam yaitu semangat Totalitas. Bacaan yang diperdengarkan kepada kita berkisah tentang Yesus yang membasuh kaki para muridNya. Yesus tahu bahwa saatnya hampir tiba di mana dia harus disalibkan. Namun sebelum peristiwa salib itu, Yesus meninggalkan sebuah pesan yang sangat dalam yaitu dengan membasuh kaki. Membasuh kaki dalam tradisi Yahudi hanya dilakukan oleh para pelayan.

Dengan simbol ini Yesus meninggalkan pesan bagi kita untuk saling melayani satu sama lain. Pelayanan yang dicontohkan oleh Tuhan Yesus adalah pelayanan yang tulus, tidak setengah-setengah tapi sungguh dengan memberikan seluruh diri, totalitas. Totalitas pelayanan itu menjadi nyata ketika Dia merentangkan tanganNya di kayu salib. Peristiwa Salib adalah puncak dari seluruh karya Yesus untuk memuliakan Bapa-Nya.

Selaras dengan teladan Yesus, Bunda Angela juga berpesan kepada kita: Anda akan menyaksikan hal-hal yang mengagumkan bila anda mengarahkan segalanya demi Kemuliaan Tuhan. Pesan Bunda Angela tentu bukanlah kata-kata kosong, karena seluruh hidupnya adalah perwujudan dari pesannya tersebut.

Suster Bapak/Ibu, teman-teman semoga kisah berikut membantu kita untuk memahami arti dari segalanya demi kemulian Tuhan.

Sebut saja namanya Daniel, seorang siswa kelas 10 di sebuah sekolah menengah di Ibu Kota. Ia bukan anak yang menonjol di sekolah. Nilainya biasa saja, bahkan kadang di bawah rata-rata. Di kelas, Daniel sering duduk di pojok, diam, dan lebih suka memperhatikan daripada berbicara.

Di rumah, Daniel tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai penjual kue. Ayahnya sudah lama meninggal. Setiap hari, sepulang sekolah, Daniel membantu ibunya berjualan, lalu malamnya baru belajar. Tapi sayangnya, pelajaran di sekolah terasa begitu sulit baginya. Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Mandarin adalah mimpi buruk yang selalu menghantui Daniel.

Suatu hari, ketika ulangan matematika, Daniel mendapat nilai 45. Beberapa temannya menertawakannya. “Sudah Dan, ngapain sih belajar terus? Mending main game aja kayak kita,” ejek salah satu temannya. Malam itu, Daniel duduk termenung di meja belajarnya. Ia merasa sedih dan hampir menyerah. Tapi kata-kata ibunya selalu terngiang lebih kuat dalam benaknya: “Dan, apapun yang kamu lakukan, lakukanlah itu untuk Tuhan. Termasuk belajar. Kalau kamu belajar dengan sungguh-sungguh, Tuhan pasti senang.”

Daniel pun berlutut dan berdoa, “Tuhan, Engkau tahu aku tidak pintar. Tapi aku ingin belajar bukan untuk pamer atau bersaing. Aku tidak butuh menjadi siswa yang cerdas, cukuplah buatku mengerti dengan baik semua yang aku pelajari. Aku ingin belajar supaya Engkau dimuliakan lewat belajarku.

Sejak saat itu, Daniel mengubah caranya belajar. Ia tak lagi belajar hanya untuk nilai tinggi, tapi ia meniatkan setiap usahanya untuk Tuhan. Ia mulai mencatat pelajaran lebih rapi, bertanya pada guru dengan sopan, dan tak malu meminta bantuan teman-temannya jika tidak memahami pelajaran. Setiap kali merasa lelah, ia berdoa, “Semua ini untuk-Mu, Tuhan.” Perlahan-lahan, nilainya naik. Guru-gurunya mulai memperhatikan semangatnya. Bahkan teman-temannya yang dulu suka mengejek, jadi kagum melihat ketekunannya.

Saat pembagian rapor tiba, Daniel tak menyangka. Ia masuk lima besar di kelasnya. Gurunya pun memanggilnya ke depan untuk memberikan penghargaan atas semangat belajar dan perubahan sikapnya. Di depan teman-temannya, Daniel berkata dengan rendah hati, “Saya sadar saya bukan anak yang pintar. Tapi saya percaya, belajar dengan sungguh-sungguh adalah caraku memuliakan Tuhan. Semua ini bukan karena saya hebat, tapi karena Tuhan yang selalu menolong saya.” Semua yang mendengarnya terdiam. Mereka tersentuh oleh ketulusan Daniel.

Sejak hari itu, Daniel menjadi inspirasi di sekolahnya. Ia menunjukkan, bahwa belajar bukan sekadar untuk mendapatkan nilai, apalagi supaya mendapat pengakuan dari temannya, tapi belajar bisa menjadi wujud nyata memuliakan Tuhan.

Suster Bapak/Ibu, serta teman-teman yang dikasihi Tuhan.

Mari kita memuliakan Tuhan melalui seluruh keberadaan kita terutama dalam belajar dan pekerjaan kita masing-masing.

Sekarang marilah kita membuat niat konkrit untuk kita lakukan selama bulan Agustus dan September ini sebagai bentuk penghayatan terhadap nasehat Santa Angela. Buatlah sebuah niat dengan bantuan pertanyaan refleksi berikut :

Sebagai bentuk perwujudtan semangat totalitas;

hal apa yang akan saya jalankan dengan sungguh-sungguh selama bulan Agustus dan September ini.

© 2026 —

Santa Theresia Jakarta